Jika melihat SMP waringin belakangan, mungkin kalian semua akan menyadari absennya seorang guru sekaligus alumni di sekolah serba hijau ini. Yap, benar! Laoshi Tania.
Sebelum cutinya guru kita yang terkasih, memang sudah menjadi pengetahuan yang cukup umum mengenai kehamilannya. Hal yang menjadi pertanyaan bagi banyak orang, termasuk saya sendiri, adalah mengapa Laoshi sudah lebi dulu pergi sebelum bulan Oktober yang seharusnya menjadi bulan lahir anak keduanya. Jawaban dari pertanyaan ini cukup simpel, kelahiran prematur. Menurutmu, gimana sih perasaan dan pengalaman Laoshi? Kita lihat, yuk!
Setelah mengalami kelahiran prematur, perasaan sudah tentu campur aduk bagi Laoshi Tania. Perasaan yang paling mendominasi adalah sedih. Sedih yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata. Laoshi juga merasa gagal karena tidak bisa menjaga bayinya di dalam kandungan hingga waktu yang ditentukan. Namun puji Tuhan, Laoshi sudah jauh lebih baik berkat dukungan dari begitu banyak orang.
Tentu saja orang pertama yang paling mensupport Laoshi jelas adalah suaminya, orang terdekat yang menemani Laoshi sepanjang kehamilannya. Orang yang kedua merupakan guru dari kuliah pendidikan anak usia dini Laoshi. Beliau seorang psikolog, hampir setiap hari Laoshi mengirim perasaannya kepada beliau ini. Beliau tak pernah gagal untuk menjawab. Malahan beliau berkata bahwa apa pun yang dirasakan oleh Laoshi, boleh ditulis dan dikirim kepadanya agar nanti saat sudah stabil, Laoshi dapat melihat dan melihat kembali apa yang sudah berhasil dilaluinya. Orang ketiga, tentu ada juga sahabat Laoshi yang berdoa bersama setiap malam hingga Syelin keluar dari rumah sakit. Tidak lupa juga, guru-guru SMP Waringin, teman kuliah pendidikan montessori anak usia dini, dan para orang tua murid-murid yang pernah Laoshi ajar yang memberikan dukungan mereka.
Dalam konteks kehamilannya sendiri, Laoshi tidak mengalami perbedaan sama sekali. Malahan bisa dibilang, anak pertama Laoshi, Selen, memiliki kehamilan yang lebih riskan, hingga laoshi seringkali work from home dan merasa sakit perut. Kehamilan yang kedua terasa lebih ringan. Laoshi sama sekali tidak terbayang bahwa ada kemungkinan anaknya lahir prematur.
Kerennya, Laoshi tetap sangat peduli dan aktif dalam mengurus kelas anak-anaknya di sekolah, 9B (kelas saya). Laoshi mengatakan dengan jujur bahwa hal ini terjadi dikarenakan Laoshi sangat sayang pada anak yang menjadi murid-murid kelasnya. Laoshi merasa bahwa tanggung jawabnya sebagai wali kelas sama besarnya dengan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Rasa sayang Laoshi sama kepada anak kandung maupun pada anak yang berada di dalam kelasnya. Tanggung jawab ini membuat Laoshi terus berkoordinasi dengan wali kelas pengganti kelas 9B, Bu Rachel. Bahkan tanaman kelas pun tetap Laoshi pedulikan dan ditanya-tanyakan ke muridnya. Hingga detail sekecil galon air di kelas yang bocor ditanyakan oleh Laoshi. Sebesar itulah rasa pedulinya pada kelasnya.
Jika Laoshi dapat bicara pada dirinya yang sedang mengalami kelahiran prematur, Laoshi ingin mengatakan jangan terlalu keras pada dirinya sendiri. Laoshi sudah dibiasakan untuk memberikan 100%, memberikan semaksimal mungkin, sebagai wali kelas, guru bahasa Mandarin, maupun sebagai orang tua. Laoshi ingin memberitahu untuk tidak memaksakan diri, aware pada batasan diri sendiri.
Nah, perkataan Laoshi dapat juga kita dengar dan kita ambil. Maksimal itu baik, namun tahu batasan diri sendiri itu sama pentingnya dengan memberikan yang terbaik. Jangan sampai kita burn out dan mendorong diri sendiri terlalu jauh. Kita manusia yang memiliki batasan dan penting bagi kita untuk mengetahui batasan tersebut.




