Senin, 13 Oktober 2025

Di Balik Ibu dan Guru

 Jika melihat SMP waringin belakangan, mungkin kalian semua akan menyadari absennya seorang guru sekaligus alumni di sekolah serba hijau ini. Yap, benar! Laoshi Tania.


Sebelum cutinya guru kita yang terkasih, memang sudah menjadi pengetahuan yang cukup umum mengenai kehamilannya. Hal yang menjadi pertanyaan bagi banyak orang, termasuk saya sendiri, adalah mengapa Laoshi sudah lebi dulu pergi sebelum bulan Oktober yang seharusnya menjadi bulan lahir anak keduanya. Jawaban dari pertanyaan ini cukup simpel, kelahiran prematur. Menurutmu, gimana sih perasaan dan pengalaman Laoshi? Kita lihat, yuk!


Setelah mengalami kelahiran prematur, perasaan sudah tentu campur aduk bagi Laoshi Tania. Perasaan yang paling mendominasi adalah sedih. Sedih yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata. Laoshi juga merasa gagal karena tidak bisa menjaga bayinya di dalam kandungan hingga waktu yang ditentukan. Namun puji Tuhan, Laoshi sudah jauh lebih baik berkat dukungan dari begitu banyak orang.


Tentu saja orang pertama yang paling mensupport Laoshi jelas adalah suaminya, orang terdekat yang menemani Laoshi sepanjang kehamilannya. Orang yang kedua merupakan guru dari kuliah pendidikan anak usia dini Laoshi. Beliau seorang psikolog, hampir setiap hari Laoshi mengirim perasaannya kepada beliau ini. Beliau tak pernah gagal untuk menjawab. Malahan beliau berkata bahwa apa pun yang dirasakan oleh Laoshi, boleh ditulis dan dikirim kepadanya agar nanti saat sudah stabil, Laoshi dapat melihat dan melihat kembali apa yang sudah berhasil dilaluinya. Orang ketiga, tentu ada juga sahabat Laoshi yang berdoa bersama setiap malam hingga Syelin keluar dari rumah sakit. Tidak lupa juga, guru-guru SMP Waringin, teman kuliah pendidikan montessori anak usia dini, dan para orang tua murid-murid yang pernah Laoshi ajar yang memberikan dukungan mereka.


Dalam konteks kehamilannya sendiri, Laoshi tidak mengalami perbedaan sama sekali. Malahan bisa dibilang, anak pertama Laoshi, Selen, memiliki kehamilan yang lebih riskan, hingga laoshi seringkali work from home dan merasa sakit perut. Kehamilan yang kedua terasa lebih ringan. Laoshi sama sekali tidak terbayang bahwa ada kemungkinan anaknya lahir prematur.


Kerennya, Laoshi tetap sangat peduli dan aktif dalam mengurus kelas anak-anaknya di sekolah, 9B (kelas saya). Laoshi mengatakan dengan jujur bahwa hal ini terjadi dikarenakan Laoshi sangat sayang pada anak yang menjadi murid-murid kelasnya. Laoshi merasa bahwa tanggung jawabnya sebagai wali kelas sama besarnya dengan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Rasa sayang Laoshi sama kepada anak kandung maupun pada anak yang berada di dalam kelasnya. Tanggung jawab ini membuat Laoshi terus berkoordinasi dengan wali kelas pengganti kelas 9B, Bu Rachel. Bahkan tanaman kelas pun tetap Laoshi pedulikan dan ditanya-tanyakan ke muridnya. Hingga detail sekecil galon air di kelas yang bocor ditanyakan oleh Laoshi. Sebesar itulah rasa pedulinya pada kelasnya.


Jika Laoshi dapat bicara pada dirinya yang sedang mengalami kelahiran prematur, Laoshi ingin mengatakan jangan terlalu keras pada dirinya sendiri. Laoshi sudah dibiasakan untuk memberikan 100%, memberikan semaksimal mungkin, sebagai wali kelas, guru bahasa Mandarin, maupun sebagai orang tua. Laoshi ingin memberitahu untuk tidak memaksakan diri, aware pada batasan diri sendiri.


Nah, perkataan Laoshi dapat juga kita dengar dan kita ambil. Maksimal itu baik, namun tahu batasan diri sendiri itu sama pentingnya dengan memberikan yang terbaik. Jangan sampai kita burn out dan mendorong diri sendiri terlalu jauh. Kita manusia yang memiliki batasan dan penting bagi kita untuk mengetahui batasan tersebut.

(Electra Hershell Setiawan 9B/10)

Pak Ayas, Guru yang Selalu Dirindukan

 


Setiap guru pasti meninggalkan kesan tersendiri bagi para siswanya. Begitu pula dengan Pak Ayas, guru Bahasa Indonesia yang pernah mengajar di SMP Waringin. Kini beliau sudah tidak lagi mengajar di sekolah tersebut, karena telah pindah ke sekolah lain. Meskipun begitu, sosoknya masih sangat dikenang oleh para siswa karena cara mengajarnya yang menyenangkan dan penuh semangat.


Saat ditanya mengenai alasan pindah ke sekolah baru, Pak Ayas menjelaskan bahwa ia ingin mencoba hal baru dan mengasah kemampuan mengajar di lingkungan yang berbeda.

“Saya ingin menambah ilmu dan pengalaman dalam mengajar siswa di tempat yang baru,” ujarnya.

Menurutnya, suasana di sekolah baru terasa lebih nyaman dan harmonis, apalagi hubungan antar guru dan siswa di sekolah baru sangat dekat. Namun, beliau juga mengakui bahwa ada tantangan baru, seperti harus beradaptasi dengan aturan dan tempo kegiatan belajar yang berbeda. Selain itu, penggunaan smartboard sebagai pengganti papan tulis juga menjadi hal baru yang harus ia pelajari.

Pak Ayas tetap berusaha membangun hubungan baik dengan siswa dan guru melalui komunikasi yang jujur dan terbuka. Ia juga membawa banyak pengalaman dari sekolah lama, seperti cara membuat pembelajaran lebih menyenangkan dengan ice breaking dan pembelajaran yang interaktif.

Bagi Pak Ayas, menjadi guru bukan hanya soal mengajar, tapi juga memberi semangat kepada siswanya. Pesannya kepada siswa di sekolah baru adalah, “Jangan pernah rendah hati jika mendapat nilai jelek! Tetaplah berusaha dan kembangkan kemampuan terbaik kalian”

Walau jadwal mengajar cukup padat, Pak Ayas tetap berusaha mengembangkan diri dengan bertanya kepada guru senior dan mempelajari fasilitas baru di sekolah.
Semangatnya dalam mencari metode mengajar yang seru membuatnya tetap termotivasi.

“Saya ingin menunjukkan bahwa pelajaran Bahasa Indonesia itu menyenangkan dan tidak bisa diremehkan,” katanya.

Namun, bagaimana tanggapan para siswa SMP Waringin setelah kepergian beliau?
Banyak dari mereka mengaku sedih dan kehilangan motivasi belajar.

Yukiko (9D) berkata, “Sedih banget, soalnya cara mengajar Pak Ayas itu seru dan interaktif. Suaranya jelas, penjelasannya mudah dimengerti, dan setiap kali Pak Ayas ngasih tugas atau menjelaskan sesuatu tuh selalu enak didengar.”

Michelle (9A) juga menambahkan, “Biasanya pelajaran Bahasa Indonesia itu membosankan, tapi kalau sama Pak Ayas jadi seru banget. Belajarnya bisa sambil main, jadi gak ngantuk.”

Kaylee (9B) menyampaikan, “Pa Ayas is better and friendlier. He always made the class happy and active.”

Emily (9C) pun berpendapat, “Cara Pak Ayas mengajar itu seru banget dan gampang dimengerti. Guru yang lain mungkin punya pengetahuan lebih luas, tapi penyampaiannya kurang menarik.”

Dari berbagai pendapat siswa, terlihat bahwa Pak Ayas bukan hanya guru yang pintar mengajar, tapi juga dekat dan disukai oleh murid-muridnya. Cara beliau mengajar  membuat pelajaran terasa lebih menyenangkan dan mudah dipahami.

Kini, meskipun Pak Ayas sudah mengajar di sekolah lain, semangat dan kenangan tentang beliau tetap hidup di hati para murid-murid SMP Waringin. Meskipun murid-murid baru tidak pernah merasakan diajar oleh Pak Ayas, ia akan tetap dirindukan oleh murid-muridnya, terutama siswa siswi yang pernah diajar olehnya.

(Clara Audelia 9D/5)

Kamis, 29 Agustus 2019

Pesta Rakyat SMP Waringin 2019

Pesta Rakyat SMP Waringin 2019

            Oleh: Helen Natali 7B/12

Hari Jumat,16 Agustus 2019 SMP Waringin mengadakan pesta rakyat (Perak) dalam rangka memperingati HUT RI yang ke-74. Pagi itu lapangan dipenuhi oleh siswa-siswi SMP Waringin, mulai dari kelas VII sampai dengan kelas IX. Menurut Mizuki, Wakil Ketua OSIS SMP Waringin, lomba kali ini tidak memiliki tema, namun lebih mementingkan makna dari lombanya sendiri, yaitu memupuk kebersamaan dan kekompakan kelas.
 Acara dibuka dengan apel (upacara singkat) yang dipimpin oleh Laoshi Tania.  Setelah apel bersama, ada penampilan spesial dari Ekstra Dance, Karate, dan Wushu. Penampilan tersebut disambut dengan tepuk tangan meriah dari para siswa siswi.
 Setelah lapangan disiapkan, perlombaan pun dimulai. Peserta pertama adalah siswa-siswi dari kelas VIII. Perlombaan ini dilaksanakan secara berantai. Lomba pertama adalah mencari jarum. Di sini, peserta harus mencari jarum yang diletakkan di dalam kardus yang berisi sobekan kertas. Memangnya tidak akan terluka? Tenang saja, jarum tersebut diletakkan di dalam sedotan,  kok. Jadi, tangan kalian tidak akan sampai tertusuk. Jika peserta salah menebak, harus berputar dulu sebanyak 3 kali, lalu mengulang mengambil sedotan.
  Lomba kedua adalah memasukkan benang  ke lubang jarum. Setelah berhasil peserta berlari ke peserta lain yang mengikuti lomba ketiga, yaitu lomba memecahkan balon. Pesertanya ada 2, laki-laki dan perempuan. Tugasnya pun berbeda. Siswa putri duduk di bawah gawang, bertugas untuk memberi aba-aba kepada siswa putra yang sudah ditutup matanya dengan kain. Setelah balonnya pecah, peserta putri akan mendapat kain merah dari peserta putra dan kain putih disediakan yang harus dijahit menjadi bendera merah putih.
Lomba selanjutnya adalah lomba yang paling sulit, yaitu lomba makan kerupuk.  Kaki peserta akan diikat menggunakan tali rapia yang terhubung dengan kerupuk yang harus mereka makan. Sehingga semakin peserta menurunkan kakinya, semakin sulit kerupuk itu tercapai. Lomba ini paling sulit sekaligus paling mengulur waktu.
Setelah peserta menghabiskan kerupuknya, bendera merah putih yang tadi telah dijahit diberikan ke peserta lomba selanjutnya, yaitu lomba balap karung. Peraturannya, peserta melompat menggunakan karung dan helm. Tak lupa lompatnya sambil jongkok. Kasian, pada kepanasan!
Setelah peserta sampai garis finis, peserta memberikan bendera merah putih kepada peserta lomba tebak lagu. Peraturan pada lomba ini adalah setiap peserta mengambil gulungan kertas di dalam kardus. Pada gulungan kertas tersebut terdapat potongan lirik dari lagu daerah. Peserta harus menyebut judulnya. Jika salah, harus berputar 3 kali lalu mengulang mengocok.
Setelah berhasil menebak 3 judul lagu, peserta berlari menuju peserta lainnya yang megikuti lomba estafet sarung. Sarung yang sudah dibasahi harus diestafetkan ke teman yang paling ujung dan tidak boleh melepas pegangan dari teman sebelahnya.

  Lomba terakhir adalah menyentil jeruk nipis. Peserta harus berputar sebanyak 10 kali (sampai pusing) lalu harus menutup sebelah matanya untuk kemudian menyentil jeruk nipis yang diletakkan di atas botol plastik. Ada yang sampai jatuh, tapi ada pula yang berhasil menyentil dengan sempurna.
 Para pemenang dari masing-masing angkatan kemudian bertanding melawan pengurus OSIS dan para guru. Hasilnya, pemenangnya adalah kelas 7E. Mantap, 7E!
Setelah lomba berakhir, kesenangan belum berakhir. Semua anak, baik yang ikut lomba maupun tidak, saling melempar tepung. Acara ditutup dengan doa malaikat Tuhan. Lalu semua anak keluar meninggalkan lingkungan SMP Waringin, kecuali para pengurus OSIS.

Minggu, 09 September 2018

Perbaikan Matematika Membuat Cemas

Perbaikan Matematika Membuat Cemas


Tanggal 30 Agustus 2018 pada pukul 08.20, siswa kelas 9A SMP Waringin mengerjakan soal ulangan perbaikan matematika. Setelah dua kali mengikuti ulangan yang diberikan guru pengganti sementara Bu Rinda yang cuti, hasil ulangan kelas 9A masih belum memuaskan. Ibu Rinda, guru matematika kelas 9, pun mengadakan ulangan perbaikan.

Banyak siswa kelas 9A yang kesulitan mengerjakan soal ulangan perbaikan ini. Selain soalnya sulit, waktu yang cukup sebentar juga membuat para siswa terburu-buru mengerjakan soal-soal. Beberapa siswa menyatakan ada beberapa soal yang tidak terisi. Sebagian siswa cukup takut nilainya akan jelek.

Menurut seorang siswa, Shirley, karena soalnya cukup sulit dan waktunya sebentar, ia tidak menyelesaikan beberapa soal. Menurutnya soal-soal dari Ibu Rinda lebih sulit dari soal dari guru sebelumnya.

Tapi tidak semua siswa beranggapan demikian. Menurut salah seorang siswa yang lain, Edwina, soalnya biasa saja. Ia tidak kesulitan untuk mengerjakan soal-soal tersebut.

Ketika dikonfirmasi, Bu Rinda menjelaskan bahwa soalnya sebenarnya sama saja. Untuk awal tahun ini, kelas 9 diberi pelajaran berupa review materi kelas 7 dan 8 sebagai dasar.

(Sanny Marlem/9A)

Kamis, 06 September 2018

Pra-LDK Hari Kedua

Pra-LDK Hari Kedua


    Hari Rabu, 5/9/2018, adalah hari kedua pra-LDK (Pra- Latihan Dasar Kepemimpinan) bagi calon pengurus OSIS SMP Waringin periode 2017-2018.

        Hari ini, para peserta diminta untuk mengubah barang bekas pakai menjadi barang yang berguna dan mempresentasikannya di kelas.

        Kegiatan ini bertujuan untuk melatih sekaligus menguji kreativitas, kerja sama, serta keberanian untuk berbicara di depan umum para calon pengurus OSIS. Dalam kegiatan ini, para calon dibimbing oleh tiga guru, yaitu Pak Bayu, Ibu Marcel, dan Ibu Yayuk.

        Dalam kegiatan ini, para calon pengurus OSIS dibagi menjadi beberapa kelompok dengan anggota 5 orang. Dengan barang-barang bekas yang dibawa anggota kelompok, para calon pengurus OSIS membuat barang yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam waktu 40 menit.

(Elena H. Setiawan/7B)

Misa BKSN

MISA BKSN


Pada tanggal 3 September 2018, siswa-siswi SMP Waringin melaksanakan Misa Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) di Gereja Santo Mikael.

“Para siswa diberangkatkan ke gereja pada pukul 07.30,” kata Bu Yayuk, Wakasek Kesiswaan SMP Waringin.

Tema Misa BKSN kali ini adalah “Mewartakan kabar gembira dalam kemajemukan”. Misa dipimpin oleh Pastor Uung dan dibantu oleh beberapa misdinar. Petugas koor kali ini adalah siswa-siswi kelas 7D bersama wali kelasnya yaitu Pak Bayu. Koor ini diiringi suara organ yang dimainkan oleh Regina Pingkan dari kelas 9A, Hansen Kristiandi dari kelas 9C, dan Angelica Violeta dari kelas 9A sebagai dirigennya. Misa berlangsung dengan tertib.

“Ibu senang karena kalian sudah bisa mengikuti misa pagi ini dengan baik,”kata Bu Yayuk kepada para siswa ketika misa selesai.

Misa BKSN ini dilaksanakan untuk mengawali Bulan Kitab Suci Nasional yang jatuh pada bulan September. Misa selesai pada pukul 09.15. Setelah itu para siswa diperkenankan untuk kembali ke sekolah dan beristirahat.

(Edwina Clara Mulya/9A)

Menjelang Bulan Kitab Suci

MENJELANG  BULAN KITAB SUCI NASIONAL


Pada hari Selasa, 4 september 2018, siswa SMP Waringin  kelas 7, 8 dan 9 yang beragama Katolik diwajibkan untuk membawa kitab suci. Hal ini diwajibkan karena sebentar lagi umat Katolik seluruh Indonesia merayakan bulan kitab suci nasional.

Menurut Ibu Chandra, Guru Agama SMP Waringin, tujuan dari penugasan tersebut adalah agar siswa  SMP Waringin bisa mengenal Tuhan lebih dalam dan mendorong siswa untuk rajin membaca kitab suci. Kitab Suci ini digunakan pada jam Refleksi yakni jam 12.15 WIB.

(Maria Anggraita Wijaya/7B)